2026-08-07 HaiPress

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
Daftar di sini
Kirim artikel
Editor Ferril Dennys
"Indonesia membutuhkan banyak orang pintar."
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto itu terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya menyimpan pertanyaan besar bagi masa depan bangsa.
Di hadapan para peneliti, Presiden menegaskan, Indonesia membutuhkan semakin banyak talenta yang menguasai sains dan teknologi sebagai fondasi kemajuan nasional.
Ia bahkan mengingat kembali pesan Presiden ketiga RI, B.J. Habibie, tentang pentingnya memiliki banyak orang pintar untuk membangun Indonesia.
Namun, siapakah sesungguhnya yang dimaksud "orang pintar"?
Apakah mereka yang memiliki IQ tinggi? Lulusan universitas terbaik? Bergelar profesor? Atau mereka yang mampu mengubah pengetahuan menjadi solusi bagi persoalan bangsa?
Pertanyaan itu penting karena Indonesia sesungguhnya tidak kekurangan orang berpendidikan.
Jumlah perguruan tinggi telah mencapai ribuan, jutaan lulusan baru memasuki pasar kerja setiap tahun, dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia terus meningkat hingga mencapai 75,90 pada 2025, tertinggi sepanjang sejarah.
Akan tetapi, pada saat yang sama, produktivitas nasional belum melompat sebagaimana diharapkan, inovasi masih tertinggal, dan daya saing teknologi Indonesia masih menghadapi tantangan besar. Paradoks inilah yang perlu dijawab.
Selama puluhan tahun, kecerdasan diukur melalui angka.
Nilai ujian, IPK, skor IQ, hingga peringkat akademik menjadi tolok ukur utama. Padahal, dunia telah berubah.
Kecerdasan abad ke-21 bukan lagi ditentukan oleh siapa yang paling banyak menghafal, melainkan siapa yang paling mampu menyelesaikan persoalan yang belum pernah ada jawabannya.
Di era kecerdasan buatan (AI), pengetahuan telah menjadi komoditas yang murah. AI dapat menjelaskan teori, menghitung data, bahkan menulis laporan dalam hitungan detik.
Yang tidak dapat digantikan AI adalah kemampuan manusia untuk bertanya dengan tepat, mengambil keputusan bijaksana, berkolaborasi, berempati, dan menciptakan inovasi yang memberi manfaat bagi banyak orang.
Karena itu, orang pintar masa kini setidaknya memiliki lima karakter utama: berpikir kritis, mampu memecahkan masalah, terus belajar, berintegritas, dan menghasilkan nilai tambah.
08-07
08-07
08-07
08-07
08-07
08-07
08-07
08-07
08-07
08-07