Rumah Manajemen hotel Pendidikan orangtua-anak Sintesis berita Bisnis Teknologi Mobil hidup Pakaian fashion Kehidupan Peristiwa game Hiburan Perumahan Brigade Budaya Kesehatan Makanan Keuangan Cerdas Olahraga Pendidikan

Kemarau Datang, Sumur Mengering, Warga Kampung Koceak Tangsel Menanti Air dan Sumur Bor

2026-07-18 HaiPress

TANGERANG SELATAN, iDoPress - Setiap musim kemarau datang, warga Kampung Koceak, Kelurahan Keranggan, Kecamatan Setu, Kota Tangerang Selatan, seolah kembali menjalani cerita yang sama.

Sumur-sumur mulai mengering, bak penampungan kosong, dan jeriken berisi air bersih menjadi barang yang paling dinantikan.

Di tengah keterbatasan itu, warga bertahan dengan berbagai cara, mulai dari menumpang mandi di rumah kerabat hingga mengandalkan bantuan air bersih dari pemerintah.

Suami Berangkat Kerja Tanpa Mandi

Bagi Riska (32), kekeringan bukan lagi hal yang mengejutkan. Sejak kecil, ia terbiasa melihat air sumur di lingkungannya menyusut setiap musim kemarau.

Kondisi itu tidak hanya mengganggu aktivitas rumah tangga, tetapi juga memengaruhi rutinitas suaminya yang harus berangkat bekerja tanpa sempat mandi karena tidak kebagian air.

iDoPress/INTAN AFRIDA RAFNI Warga Koceak saat menerima bantuan air dari BPBD Tangerang Selatan akibat kekeringan, Jumat (17/7/2026).

"Suami saya kemarin sempat enggak mandi, pulang enggak mandi, berangkat enggak mandi kerja karena nggak kebagian air," kata Riska saat ditemui iDoPress di Kampung Koceak, Jumat (17/7/2026).

Air sumur di rumah Riska sebenarnya belum benar-benar habis. Namun, debitnya sangat kecil sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan tiga keluarga yang menggunakan satu sumur yang sama.

Akibatnya, keluarganya harus mengatur penggunaan air secara ketat. Air yang tersisa diprioritaskan untuk kebutuhan paling mendesak, sementara anggota keluarga lainnya mencari alternatif.

"Karena enggak kebagian airnya, soalnya kan yang makainya banyak. Benar-benar enggak kebagian, bak kosong semua," ujar dia.

Kini, suaminya memilih mandi di tempat kerja sebelum pulang ke rumah. Sementara Riska bersama anaknya harus menumpang mandi di rumah sang ibu yang berada di RT 05 karena wilayah tersebut masih memiliki cadangan air yang cukup.

"Pokoknya semenjak air di sini tekor, jadi airnya diprioritaskan untuk suami saya dulu. Saya dan anak saya numpang mandi ke rumah ibu karena kita di rumah aja," kata dia.

Kesulitan air juga membuat pekerjaan rumah tangga berubah. Riska mengaku tidak lagi mencuci pakaian di rumah dan memilih menggunakan jasa laundry.

"Nyuci ke laundry. Kalau ke kali saya enggak berani, takut, jauh juga," kata dia.

Bergantung pada Bantuan Air Bersih

Di tengah kondisi tersebut, distribusi air bersih dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tangerang Selatan menjadi penopang utama kebutuhan warga.

Satgas BPBD Kota Tangerang Selatan Coky Harianto mengatakan, pada Jumat, sebanyak 13.000 liter air bersih disalurkan ke empat titik di Kelurahan Keranggan, yakni RT 02 RW 01, RT 04 RW 02, RT 011 RW 04, dan RT 013 RW 05.

Penafian: Artikel ini direproduksi dari media lain. Tujuan pencetakan ulang adalah untuk menyampaikan lebih banyak informasi. Ini tidak berarti bahwa situs web ini setuju dengan pandangannya dan bertanggung jawab atas keasliannya, dan tidak memikul tanggung jawab hukum apa pun. Semua sumber daya di situs ini dikumpulkan di Internet. Tujuan berbagi hanya untuk pembelajaran dan referensi semua orang. Jika ada pelanggaran hak cipta atau kekayaan intelektual, silakan tinggalkan pesan kepada kami.
© Hak Cipta 2009-2020 Jaringan Jurnal Indonesia      Hubungi kami   SiteMap